biscuit53's Weblog

June 8, 2008

Kerana Dia Manusia Biasa

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 1:43 pm

Setiap kali ada sahabat yang ingin menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suami/isterimu?
Jawabannya ada bermacam-macam. Bermula dengan jawaban kerana Allah hinggalah jawaban duniawi.

Tapi ada satu jawaban yang sangat menyentuh di hati saya. Hingga saat ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban dari salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Kemudian membuat keputusan menikah. Persiapan pernikahan mereka hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak hairan. Proses pernikahan seperti ini selalu dilakukan. Dia bukanlah akhwat, sebagaimana saya. Satu hal yang pasti, dia
jenis wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami.

Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sukar untuk membuka hati. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menganggapnya serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi. Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tarikh pernikahannya. Serta meminta saya untuk memohon cuti, agar dapat menemaninya semasa majlis pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Sebenarnya….!!!

Saya ingin tau, kenapa dia begitu mudah menerima lelaki itu. Ada apakah gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia boleh memutuskan untuk bernikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk ketika itu (benar-benar sibuk).

Saya tidak dapat membantunya mempersiapkan keperluan pernikahan. Beberapa kali dia menelefon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa perkara. Beberapa kali saya telefon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all……Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Saya menggambil cuti 2 hari sebelum pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Pukul 11 malam sehari sebelum pernikahannya, baru kami dapat berbual
-hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh
membelenggu kami. Pada awalnya kami ingin berbual tentang banyak hal. Akhirnya, dapat juga kami berbual berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak perkara kepada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kami tidur.

“Aku tak boleh tidur.” Dia memandang saya dengan wajah bersahaja. Saya faham keadaanya ketika ini. “Matikan saja lampunya, biar disangka kita dah tidur.” “Ya.. ya.” Dia mematikan lampu neon bilik dan menggantinya dengan lampu yang samar. Kami meneruskan perbualan secara berbisik-bisik.

Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kami lakukan. Kami berbual banyak perkara, tentang masa lalu dan impian-impian kami. Wajah keriangannya nampak jelas dalam kesamaran. Memunculkan aura cinta yang menerangi bilik ketika itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendamkan.

“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
baringnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Perlahan dia membuka laci meja hiasnya. Dengan bantuan lampu LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.

Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan sekeping envelop kepada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Envelop putih panjang dengan cop surat syarikat tempat calon suaminya bekerja. Apa ni. Saya melihatnya tanpa mengerti. Eeh…, dia malah ketawa geli hati.

“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas putih bersaiz A4, saya
melihat warnanya putih. Hehehehehehe……..

“Teruknya dia ni.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ketawa melihat ekspresi saya. Saya mula membacanya.Saya membaca satu kalimat diatas, dibarisan paling atas. Dan sampai saat inipun saya masih hafal dengan kata-katanya.


Begini isi surat itu…….

************************************************** ************************
**
************************************************** ************************
**
********************

Kepada Yth ………

Calon isteri saya, calon ibu anak-anak saya, calon menantu Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silakan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama …………… menginginkan anda …………… untuk
menjadi isteri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa.
Buat masa ini saya mempunyai pekerjaan.

Tetapi saya tidak tahu apakah kemudiannya saya akan tetap bekerja. Tapi yang pasti saya akan berusaha mendapatkan rezeki untuk mencukupi keperluan isteri dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih menyewa rumah. Dan saya tidak tahu apakah kemudiannya akan terus menyewa selamannya. Yang pasti, saya akan tetap berusaha agar isteri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja.

Oleh kerana itu. Saya menginginkan anda supaya membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Kerana saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqarah berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda kerana Allah. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari sekarang ini. Saya memohon anda sholat istiqarah dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya beri masa minima 1 minggu, maksima 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu’alaikum Wr Wb

************************************************** ************************
**
***********

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistik. Tanpa janji-janji yang melambung dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta biasa.

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.

“Kenapa kamu memilih dia……?”

“Kerana dia manusia biasa…….” Dia menjawab mantap. “Dia sedar bahawa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kami kemudian hari. Entah kenapa, justru itu memberikan kesenangan tersendiri buat aku.”

“Maksudnya?”

“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. betuI tak? Paling tidak…. Aku tau bahawa dia tidak akan frust kalau
suatu masa nanti kami jadi miskin.

“Ssttt…….” Saya menutup mulutnya. Khuatir kalu ada yang tau kami belum tidur. Terdiam kami memasang telinga.

Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kami saling
berpandangan lalu gelak sambil menutup mulut masing-masing.

“Udah tidur. Besok kamu mengantuk, aku pula yang dimarahi Mama.” Kami kembali berbaring. Tapi mata ini tidak boleh pejam. Percakapan kami tadi masih terngiang terus ditelinga saya.

“Gik…..?”

“Tidur…… Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia kelihatan cantik besok pagi. Rasa mengantuk saya telah hilang, rasanya tidak akan tidur semalaman ini.

Satu lagi pelajaran dari pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia
sedar dengan kemanusiannya. Sedar bahawa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitu juga dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah terpahat sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak.

Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tetapi sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.

Status diri yang selama ini melekat dan dibanggakan (aku anak orang
ini/itu), ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi kerana Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan segalanya pada Allah yang membuat senarionya.

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap HambaNYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.

Kita hanya boleh memohon keridhoan Allah. MemintaNYA mengurniakan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.
Jadi, bagaimana dengan cinta?

Ibu saya pernah berkata, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir,
lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu dapat bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam
pernikahan yang suci. Cinta tumbuh kerana suami/isteri (belahan jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

Cinta?!

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 1:40 pm

MUNGKIN ANTARA KITA YANG PERNAH TERBACA KISAH NI..
KISAH YANG BANYAK PENGAJARAN
ADA KEBENARAN YANG TERSEMBUNYI..
HAYATI…

Dalam satu kisah percintaan yang menarik. Sepasang suami isteri berjalan
di tepi sebuah tasik yang indah. Kemudian mereka berhenti di sebuah
bangku yang disediakan di tepi tasik. Kemudian si isteri bertanya kepada si
suami. Ini dialog mereka

Isteri : Mengapa abang menyukai saya? Mengapa abang cintakan saya?

Suami : Abang tidak boleh menerangkan sebabnya, namun begitu abang memang
menyayangi dan mencintai Sayang!

Isteri : Abang tak boleh terangkan sebabnya? Bagaimana abang boleh katakan
abang sayang dan cintakan saya sedangkan abang tidak boleh menerangkannya.

Suami : Betul! Abang tak tahu sebabnya tetapi abang boleh buktikan bahawa
abang memang cintakan Sayang!

Isteri : Tak boleh beri bukti! Tidak! Saya hendak abang terangkan kepada
saya sebabnya. Kawan-kawan saya yang lain yang mempunyai suami dan teman
lelaki, semuanya tahu menerangkan mengapa mereka mencintai. Dalam bentuk
puisi dan syair lagi. Namun begitu abang tidak boleh terangkan sebabnya

Si suami menarik nafas panjang dan dia berkata
“Baiklah! Abang mencintai Sayang sebab sayang cantik, mempunyai suara yang
merdu, penyayang dan mengingati abang selalu. Abang juga sukakan senyuman manis
dan setiap tapak Sayang melangkah, di situlah cinta Abang bersama Sayang!”

Si isteri tersenyum dan berpuas hati dengan penerangan suaminya tadi.
Namun begitu selang beberapa hari si isteri mengalami kemalangan dan koma.

Si suami amat bersedih dan menulis sepucuk surat kepada isterinya yang
disayangi. Surat itu diletakkan di sebelah katil isterinya di hospital.
Surat tersebut berbunyi begini :

“Sayang!Jika disebabkan suara aku mencintai mu… sekarang bolehkah
engkau bersuara? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu. Jika disebabkan
kasih sayang dan ingatan aku mencintai mu…sekarang bolehkah engkau
menunjukkannya? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu.Jika
disebabkan senyuman aku mencintai mu… sekarang bolehkah engkau
tersenyum? Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu.Jika disebabkan
setiap langkah aku mencintai mu…. sekarang bolehkah engkau melangkah?
Tidak! Oleh itu aku tidak boleh mencintai mu. Jika cinta memerlukan
sebabnya, seperti sekarang. Aku tidak mempunyai sebab mencintai mu lagi.
Adakah cinta memerlukan sebab? Tidak! Aku masih mencintai mu dulu, kini,
selamanya dan cinta tidak perlu ada sebab. Kadangkala perkara tercantik
dan terbaik di dunia tidak boleh dilihat, dipegang. Namun begitu… ia
boleh dirasai dalam hati.”

Cinta, Kekayaan, Kecantikan, Kesedihan, Kegembiraan..

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 1:39 pm

….Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada CINTA, KEKAYAAN, KECANTIKAN, KESEDIHAN, KEGEMBIRAAN dan sebagainya.Awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling melengkapi. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik semakin tinggi dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencuba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki CINTA.Tak lama CINTA melihat KEKAYAAN sedang mengayuh perahu.
“KEKAYAAN! KEKAYAAN! Tolong aku!” teriak CINTA. Lalu apa jawab KEKAYAAN, “Aduh! Maaf, CINTA!” kata KEKAYAAN. “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku.
Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu KEKAYAAN cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan CINTA.

CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya KEGEMBIRAAN lewat dengan perahunya.
KEGEMBIRAAN! Tolong aku!”, teriak CINTA.Namun apa yang terjadi, KEGEMBIRAAN terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tuli tak mendengar teriakan CINTA. Air makin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.

Tak lama lewatlah KECANTIKAN.”KECANTIKAN! Bawalah aku bersamamu!”, teriak CINTA.Lalu apa jawab KECANTIKAN, “Wah, CINTA, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” sahut KECANTIKAN.CINTA sedih sekali mendengarnya. CINTA mulai menangis terisak-isak. Apa kesalahanku, mengapa semua orang melupakan aku?

Saat itu lewatlah KESEDIHAN.Lalu CINTA memelas, “Oh, KESEDIHAN, bawalah aku bersamamu”, kata CINTA. Lalu apa kata KESEDIHAN, “Maaf, CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…”, kata KESEDIHAN sambil terus mengayuh perahunya.CINTA putus asa……..Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. CINTA terus berharap kalau dirinya dapat diselamatkan.

Lalu ia berdoa kepada Tuhannya, oh tuhan tolonglah aku, apa jadinya dunia tanpa aku, tanpa CINTA?

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!”CINTA menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua reyot berjanggut putih panjang sedang mengayuh perahunya. Lalu cepat-cepat CINTA naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.Kemudian di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan CINTA dan segera pergi lagi.

Pada saat itu barulah CINTA sadar, bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang baik hati menyelama tkannya itu. CINTA segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.”Oh, orang tua tadi? Dia adalah “WAKTU”, kata orang itu.Lalu CINTA bertanya “Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku”, tanya CINTA heran.

“Sebab……., kata orang itu, “hanya WAKTU lah yang tahu berapa nilainya harga sebuah CINTA itu……”

Keikhlasan Hati

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 1:34 pm

Pada masa dahulu ada seorang jejaka yang selalu menghabiskan masanya diperpustakaan pada waktu lapang. Dia amat suka membaca novel & buku cerita sehingga suatu hari dia telah terjumpa sebuah novel yang ada tertulis nama& alamat seorang gadis di salah satu muka suratnya.

Tertulis disitu “Catrina…kesepian & perlukan sahabat”. Tergerak hati jejaka untuk mengutus surat kepada si gadis. Setelah pulang ke rumah, jejaka itu menulis surat untuk memberitahu niat ingin berkawan dengan gadis itu. Beberapa hari kemudian si jejaka mendapat balasan daripada gadis bahawa dia juga bersetuju untuk berkawan dengan si jejaka. Hari betukar minggu dan minggu bertukar bulan.

Persahabatan mula bertukar kepada perasaan sayang. Namun begitu masing-masing masih belum bertemu. Si jejaka ingin sekali bertemu si gadis dan begitu juga dengan si gadis. Walaupun kedua-keduanya masih belum melihat rupa masing-masing, tapi perasaan sayang tetap berbuku di hati. Sehingga suatu hari, si jejaka dipanggil oleh bala tentera untuk pergi ke medan perang. Si jejaka amat susah hati kerana dia takut sekiranya dia tidak akan mungkin bertemu dengan si gadis.

Maka diutuskannya surat berbunyi “kalau Tuhan panjangkan jodoh kita, dan kamu masih sayang padaku, kita berjumpalah di stesen keretapi di bandar kamu pada hari perang diumumkan tamat nanti. Aku akan memakai pakaian tenteraku dan membawa sekuntum mawar berwarna merah. Aku akan mengenali kamu sekiranya kamu juga memegang bunga mawar merah. Setelah itu izikanlah aku membawa mu makan malam dan bertemu orang tuaku.”

Maka pergi lah jejaka ke medan perang setelah mengutuskan surat itu… Beberapa bulan kemudian… Pada hari pengumuman perang tamat, si jejaka pergi ke stesen keretapi di bandar tempat si gadis tinggal sambil memegang bunga di tangan. Dilihatnya seorang demi seorang gadis yang lalu sekiranya dia turut memegang bunga.

Tiba-tiba.. si jejaka ternampak seorang gadis yang agak berisi dan duduk di kerusi roda sambil melihat sekeliling. Kakinya kudung dan tangannya cacat sebelah… sebelah lagi tangannya memegang sekuntum bunga mawar berwarna merah… Si jejaka agak terkejut tetapi dia memberanikan diri menghampiri si gadis.

“Catrina?” Gadis itu melihat ke arah si jejaka dan tersenyum.

Si jejaka terus menghulurkan bunga mawar kepada si gadis dan berkata “aku amat merinduimu. Terimalah bunga ini dan pelawaan ku untuk makan malam. Orang tuaku tidak sabar untuk bertemu denganmu..”

sambil kemudian mencium tangannya. Si gadis itu terus bersuara..”aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ada seorang gadis cantik memberikan bunga ini kepadaku sebentar tadi. Dia menyuruhku memberitahu kamu bahawa di sedang menunggu kamu di restoran dekat stesen ini sekiranya kamu mempelawaku makan malam dan bertemu orang tuamu…..”

Berapa ramaikah manusia yang sesuci hati jejaka ini? Dia melihat kepada hati dan bukan kepada rupa.. dia telah mengotakan janji nya dan tetap berpegang kepada perasaan sayang walaupun pada mulanya dia menjangkakan gadis cacat itu adalah Catrina… Sesungguhnya semua manusia harus berfikir seperti dia…

Kotak : Box

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 1:31 pm

Satu hari ketika seorang ayah membeli beberapa gulung kertas bungkusan hadiah, anak perempuannya yang masih kecil dan manja sekali, meminta satu gulung.

“Untuk apa?” tanya si ayah.
“Nak bungkus hadiah” jawab si kecil.

“Jangan dibuang-buang ya.” pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.
Keesokan harinya, pagi-pagi lagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya, “Yah, Ayah…….. ada hadiah untuk Ayah.”

Si ayah yang masih menggeliat, matanya pun belum lagi terbuka sepenuhnya menjawab, “Sudahlah…. nanti nanti saja.”

Tetapi si kecil pantang menyerah, “Ayah, Ayah, bangun Ayah, dah pagi.”
“Eh… kenapa ganggu ayah… masih terlalu awal lagi untuk ayah bangun.”
Ayah terpandang sebuah bungkusan yang telah dibalut dengan kertas pembungkus yang diberikan semalam.!

“Hadiah apa ni?”
“Hadiah hari jadi untuk Ayah. Bukalah Yah, buka sekarang.”

Dan si ayah pun membuka bungkusan itu.
Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga.
“Eh.. kenapa kosong?? Tak ada isi di dalamnya. Kan Ayah dah kata jangan buang-buang kertas bungkusan Ayah. Membazir tu”

Si kecil menjawab, “Tak Ayah….., ada isi tu… Tadi kan, Puteri masukkan banyak sekali ciuman untuk Ayah.”
Si ayah merasa terharu, dia mengangkat anaknya. Dipeluk dan diciumnya.
“Puteri, Ayah belum pernah menerima hadiah seindah ini. Ayah akan selalu menyimpan hadiah ini. Ayah akan bawa ke pejabat dan sekali-sekala kalau perlu ciuman Puteri, Ayah akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya!”

Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa-apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi?
Lalu, walaupun kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata si ayah, namun di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya sebuah kotak kosong.

Moral:
Kosong bagi seseorang boleh dianggap penuh oleh orang lain.
Sebaliknya, penuh bagi seseorang boleh dianggap kosong oleh orang lain.
KOSONG dan PENUH – kedua-duanya merupakan produk dari “fikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi bererti, bermakna, kerana anda memberikan erti kepadanya, memberikan makna kepadanya.
Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan erti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong……….

“Dan sesiapa yang berjuang (menegakkan Islam) maka sesungguhnya dia hanyalah berjuang untuk kebaikan dirinya sendiri; sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajatkan sesuatupun) daripada sekalian makhluk” (al-Ankabut:6)

Versi Inggeris….

A Box Full of Kisses

The story goes that some time ago, a man punished his 3-year-old daughter for wasting a roll of gold wrapping paper. Money was tight and he became infuriated when the child tried to decorate a box to put under the Christmas tree. Nevertheless, the little girl brought the gift to her father the next morning and said, “This is for you, Daddy.”

The man was embarrassed by his earlier overreaction, but his anger flared again when he found out the box was empty. He yelled at her, stating, “Don’t you know, when you give someone a present, there is supposed to be something inside? The little girl looked up at him with tears in her eyes and cried, “Oh, Daddy, it’s not empty at all. I blew kisses into the box. They’re all for you, Daddy.”

The father was crushed. He put his arms around his little girl, and he begged for her forgiveness.

Only a short time later, an accident took the life of the child. It is also told that her father kept that gold box by his bed for many years and, whenever he was discouraged, he would take out an imaginary kiss and remember the love of the child who had put it there.

In a very real sense, each one of us, as humans beings, have been given a gold container filled with unconditional love and kisses… from our children, family members, friends, and God. There is simply no other possession, anyone could hold, more precious than this.

Love Story

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 1:30 pm

He met her at a party. She was so outstanding, many guys chasing after her, while he so normal, nobody paid attention to him. At the end of the party, he invited her to have coffee with him, she was surprised, but due to being polite, she promised.

They sat at a nice coffee shop, he was too nervous to say anything, she felt uncomfortable, she thought, please; let me go home…. suddenly he asked the waiter. “Would you please give me some salt? I’d like to put it in my coffee.” Everybody stared at him, so strange! His face turned
red, but still, he put the salt in his coffee and drank it.

She asked him curiously; why he had this hobby? He replied: “when I was a little boy, I was living near the sea, I liked playing in the sea, and I could feel the taste of the sea, just like the taste of the salty coffee. Now every time I have the salty coffee, I always think of my childhood, think of my hometown, I miss my hometown so much I miss my parents who are still living there”. While saying that tears filled his eyes. She was deeply touched.

That was his true feelings, from the bottom of his heart. A man who can express his homesickness must be a man who loves his home, cares about home, and has responsibility for his home. Then she too started to speak, spoke about her faraway hometown, her childhood, her family. That was a really nice talk, a beautiful beginning of their story.

They continued to date. She found out that he actually was the man who met all her demands; he had tolerance, was kind hearted, warm, careful. He was such a good person but she almost missed him! Thanks to his salty coffee! Then the story was just like every beautiful love story, the princess married to the prince, and then they lived a happy life…

And, every time she made coffee for him, she put some salt in the coffee, as she knew that?s the way he liked it.

After 40 years, he passed away, left her a letter which said: “My dearest please forgives me, forgive the lie of my life. This was the only lie I ever said to you—the salty coffee. Remember the first time we dated? I was so nervous that time, I actually wanted some sugar, but I said salt instead. It was too embarrasing for me to take back so I just went ahead I never thought that could be the start of our communication! I tried to tell you the truth many times but I was too afraid to do so as I had promised never to lie to you about anything…Now I’m dying, I’m afraid of nothing so I am telling you the truth: I don’t like salty coffee, what a strange bad taste.. I have had to take the salty coffee for my whole life with you and never had to feel sorry for it because I did it for you.

Having you with me is the biggest happiness in my entire life. If I could live a second time, I’d still want to know you and have you for my whole life, even if I if had to drink salty coffee again”. Her tears made the letter totally wet.

One day someone asked her: what’s the taste of salty coffee? It’s sweet. She replied. Love is not to forget but to forgive, not to see but to understand, not to hear but to listen, not to let go but to HOLD ON. Don’t ever leave the one you love for the one you like, because the one
you like will leave you for the one they love.

June 6, 2008

Don’t Take Anything For Granted

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 1:25 pm

Don’t take anything for granted

Robby’s Night

Just to share an inspiring story that i received from my e-mail today……….

At the prodding of my friends, I am writing this story. My name is Mildred Hondorf. I am a former elementary school music teacher from Des Moines, Iowa. I’ve always supplemented my income by teaching piano lessons-something I’ve done for over 30 years. Over the years I found that children have many levels of musical ability. I’ve never had the pleasure of having a prodigy though I have taught some talented students.

However I’ve also had my share of what I call “musically challenged” pupils. One such student was Robby. Robby was 11 years old when his mother (a single Mom) dropped him off for his first piano lesson. I prefer that students (especially boys) begin at an earlier age, which I explained to Robby.

But Robby said that it had always been his mother’s dream to hear him play the piano. So I took him as a student. Well, Robby began with his piano lessons and from the beginning I thought it was a hopeless endeavor. As much as Robby tried, he lacked the sense of tone and basic rhythm needed to excel. But he dutifully reviewed his scales and some elementary pieces that I require all my students to learn.

Over the months he tried and tried while I listened and cringed and tried to encourage him. At the end of each weekly lesson he’d always say, “My mom’s going to hear me play someday.” But it seemed hopeless. He just did not have any inborn ability. I only knew his mother from a distance as she dropped Robby off or waited in her aged car to pick him up. She always waved and smiled but never stopped in.

Then one day Robby stopped coming to our lessons.

I thought about calling him but assumed because of his lack of ability, that he had decided to pursue something else. I also was glad that he stopped coming. He was a bad advertisement for my teaching!

Several weeks later I mailed to the student’s homes a flyer on the upcoming recital. To my surprise Robby (who received a flyer) asked me if he could be in the recital. I told him that the recital was for current pupils and because he had dropped out he really did not qualify. He said that his mother had been sick and unable to take him to piano lessons but he was still practicing “Miss Hondorf I’ve just got to play!” he insisted.

I don’t know what led me to allow him to play in the recital. Maybe it was his persistence or maybe it was something inside of me saying that it would be all right. The night for the recital came. The high school gymnasium was packed with parents, friends and relatives. I put Robby up last in the program before I was to come up and thank all the students and play a finishing piece. I thought that any damage he would do would come at the end of the program and I could always salvage his poor performance through my “curtain closer.”

Well, the recital went off without a hitch. The students had been practicing and it showed. Then Robby came up on stage. His clothes were wrinkled and his hair looked like he’d run an eggbeater through it. “Why didn’t he dress up like the other students?” I thought. “Why didn’t his mother at least make him comb his hair for this special night?”

Robby pulled out the piano bench and he began. I was surprised when he announced that he had chosen Mozart’s Concerto #21 in C Major. I was not prepared for what I heard next. His fingers were light on the keys, they even danced nimbly on the ivories. He went from pianissimo to fortissimo; From allegro to virtuoso. His suspended chords that Mozart demands were magnificent! Never had I heard Mozart played so well by people his age. After six and a half minutes he ended in a grand crescendo and everyone was on their feet in wild applause.
Overcome and in tears I ran up on stage and put my arms around Robby in joy. “I’ve never heard you play like that Robby! How’d you do it? ” Through the microphone Robby explained: “Well Miss Hondorf . . .. Remember I told you my Mom was sick? Well, actually she had cancer and passed away this morning And well . . She was born deaf so tonight was the first time she ever heard me play. I wanted to make it special.”

There wasn’t a dry eye in the house that evening. As the people from Social Services led Robby from the stage to be placed into foster care, I noticed that even their eyes were red and puffy and I thought to myself how much richer my life had been for taking Robby as my pupil.

No, I’ve never had a prodigy but that night I became a prodigy. . . Of Robby’s. He was the teacher and I was the pupil for it is he who taught me the meaning of perseverance and love and believing in yourself and maybe even taking a chance in someone and you don’t know why.

Robby was killed in the senseless bombing of the Alfred P. Murrah Federal Building in Oklahoma City in April of 1995.

And now, a footnote to the story.

If you are thinking about forwarding this message, you are probably thinking about which people on your address list aren’t the “appropriate” ones to receive this type of message. The person who sent this to you believes that we can all make a difference. So many seemingly trivial interactions between two people present us with a choice: Do we act with compassion or do we pass up that opportunity and leave the world a bit colder in the process?

Lesson : Don’t take anything for granted.

Kisah Potato

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 12:58 pm

A jobless man applied for the position of “office boy” at Microsoft.
The HR Manager interviewed him, then watched him clean the floor as a
test.

“You are employed,” he said. “Give me your e-mail address and I’ll
send you the application to fill in, as well as date when you may start.”

The man replied, “But I don’t have a computer, neither an e-mail
address.”

“I’m sorry,” said the HR Manager. “If you don’t have an e-mail
address, that means you do not exist. And who doesn’t exist, cannot have the
job.”

The man left with no hope at all. He didn’t know what to do, with only
$10 in his pocket. He then decided to go to the supermarket and buy a
10kg potato crate. He then sold the potatoes in a door-to-door round. In
less than two hours, he succeeded to double his capital. He repeated the
operation three times, and returned home with $60.

The man realized that he can survive by this way, and started to go
everyday earlier, and return late. Thus, his money doubled or tripled
everyday. Shortly, he bought a cart, then a truck, and then he had his
own fleet of delivery vehicles. Five years later, the man is one of the
biggest food retailers in the US. He started to plan his family’s
future, and decided to have a life insurance.

He called an insurance broker, and chose a protection plan. When the
conversation concluded, the broker asked him his e-mail address.

The man replied, “I don’t have an e-mail address.”

The broker answered curiously, “You don’t have an e-mail address, and
yet have succeeded to build an empire. Can you imagine what you could
have been if you had an e-mail?!!”

The man thought for a while and replied, “Yes, I’d be an ‘office boy’
at Microsoft!”

Moral of the story:

Moral 1
Internet is not the solution to your life.

Moral 2
If you don’t have Internet, but work hard, you can be a millionaire.

Moral 3
Since you received this message by e-mail, you are closer to being an
‘office boy/girl’ than a millionaire…

PS: Do not forward this e-mail back to me as I’m closing my e-mail
account
and going to sell potatoes!!!

June 5, 2008

Kisah Biskut!!

Filed under: story to tell — Tags: — gingerbread53 @ 11:25 am

Seorang wanita di lapangan terbang sedang menunggu waktu penerbangannya. Sambil menunggu, dia makan biskut yang dibelinya sebelum itu dan membaca buku cerita. Sedang dia makan dia terperasan yang lelaki disebelahnya turut mengambil biskut dari bungkusan yang sama yang terletak di sebelahnya.

Setiap keping biskut yang dia ambil lelaki itu turut mengambil sama. Di dalam hati wanita itu menyumpah-nyumpah lelaki itu.

“Alangkah tak malunya lelaki ni….. dah la tak mintak dari aku…. makan sama banyak dengan aku pulak tu…Pencuri!! ” rungut wanita itu dalam hati.

Dalam pada itu, lelaki itu dengan muka yang tenang terus dengan perbuatannya. Hinggalah sampai ke biskut terakhir yang terdapat dalam bungkusan itu. Wanita itu menunggu reaksi dari lelaki itu. Sambil tersenyum lelaki itu mengambil biskut yang terakhir itu lalu dipatah dua lantas memberikan separuh darinya kepada wanita itu. Wanita itu menjadi begitu marah namun dia tetap menahan dirinya dari memarahi lelaki itu.

Sambil merampas dengan kasar biskut yang separuh itu dan menunjukkan mukanya yang masam mencuka, wanita itu berkata dalam hatinya.

“Berani sungguh lelaki ni. Memang muka tak malu. Pencuri besar.” kata hatinya dengan marah.

Kedua-dua wanita dan lelaki itu terus duduk sehingga panggilan untuk menaiki pesawat untuk wanita itu sampai. Sambil menarik nafas lega seolah baru lepas dari satu kejadian ngeri wanita itu bergerak menaiki pesawatnya.

Apabila dia sampai di tempat duduknya beliau membuka beg kecilnya untuk mengambil barang. Alangkah terkejutnya dia apabila melihat satu bungkusan biskut berada di dalam begnya dan ia masih elok belum terbuka.

“Jika biskut ini ada dalam beg aku jadi bermakna biskut yang aku makan tadi…” getusnya.

Ya.. .biskut yang dimakannya tadi adalah kepunyaan lelaki itu. Alangkah malunya dia atas segala tindakannya terhadap lelaki itu. Lelaki itu telah sanggup berkongsi biskut dengannya sehingga biskut yang terakhir biarpun dari awal lagi wanita itu telah menunjukkan reaksi marahnya.

Untuk meminta maaf sudah terlambat namun hatinya penuh kekesalan kerana bersifat kedekut dan tidak mahu berkongsi dengan orang lain. Kini dia menyedari bahawa dialah pencuri biskut yang sebenar.

Blog at WordPress.com.